Pages

Tampilkan postingan dengan label ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ibu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juni 2012

Perjuangan Seorang Ibu


Pernahkah kita mencoba mengingat akan masa lalu ??
Sembilan bulan kita hidup dalam kandungan sang bunda, Bunda selalu membawa kita kemanapun ia pergi.
Tak pernah ia berfikir untuk menanggalkan kita walau sejenak. Lalu kita pun lahir dengan tangis pertama kita menyapa dunia ini. Bunda pun selalu ikhlas merawat kita dengan penuh kasih sayang. Kadang kita telah begitu saja mengambil waktu istirahatnya dengan tangis kita di malam hari. mengganti popok kita yang basah, memberikan kita air susu ketika kita lapar. Dan kita hanya bisa menangis saja ketika itu. Kita selalu diayun, dipangku dan ditimang-timang.

Selasa, 04 Januari 2011

TERIMA KASIH IBU

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak
laki-laki dari sebuah keluarga yang amat sederhana. Bahkan untuk makan saja,
seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bagian nasinya
untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata, “Makanlah nak, aku
tidak lapar.” Dan setelah aku dewasa aku baru tersadar bahwa saat itu ibu telah
berbohong.

Ketika saya mulai menginjak remaja, ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya
selalu gigih dalam membantu ayah mencari nafkah. Berusaha apa saja ia lakoni
demi mendapatkan sejumlah uang. Namun pernah satu kali ia tak mendapatkan
bayaran atas usahanya, ia hanya mendapatkan upah dengan beberapa ekor ikan segar
yang dimasaknya menjadi sebuah hidangan yang menggugah selera.

Sewaktu memakan makanan itu, ibu duduk di samping kami dan memakan sisa daging
ikan yang masih menempel di tulang bekas sisa makanan kami. Melihat itu tentu
saja aku tak tega dan menyodorkan ikan bagianku kepadanya. Tetapi ibu dengan
cepat menolaknya. “Makanlah nak, ibu tidak begitu suka dengan daging ikan,”
tuturnya. Dan aku kembali menyadari bahwa ibu telah kembali berbohong. Saat aku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, demi membiayai uang sekolah itu,
ibu rela mengerjakan sulaman barang-barang kerajinan yang didapatnya dari
tetangga sebelah rumah. Sedikit demi sedikit ia selesaikan pekerjaannya itu.
Saat itu aku trenyuh menyaksikan kegigihan ibu, karena hingga jam menunjukan
pukul satu malam ibu belum juga berhenti. Saat aku memintanya untuk istirahat
dan tidur, ia malah menyuruhku untuk tidur terlebih dahulu, sementara ia
beralasan belum mengantuk.

Hari-hari terus berjalan, hingga pada waktu yang telah digariskan, ayah
meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Setelah kepergian ayah, ibu yang
malang harus merangkap menjadi ayah, membiayai keperluan hidup kami
sendiri dan tiada hari tanpa penderitaan. Hingga banyak keluarga ibu yang
mensehati ibu untuk kembali menikah, tetapi ibu menolaknya dengan mengatakan
bahwa ia tak butuh cinta, dan aku tahu saat itu ibu berbohong.

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja,
ibu yang mulai renta sudah waktunya beristirahat. Tetapi ibu tidak mau, ia rela
pergi ke pasar setiap pagi menjual sedikit sayur untuk memenuhi keperluan
hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar
kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi
keperluan ibu, tetapi ibu berkeras tidak mau menerima uang tersebut. “Gunakan
saja uang itu untuk keperluan kalian, saat ini ibu tak membutuhkan uang kalian.”
Entah sudah berapa kali ibu berbohong.

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena sebuah penyakit, kini ia harus
dirawat di rumah sakit. Aku yang berada jauh di seberang lautan harus segera
pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di
ranjangnya setelah menjalani pembedahan di bagian perutnya.

Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun
senyum yang terpancar di wajahnya terkesan agak kaku, karena sakit yang
ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menggerogoti tubuh ibuku,
sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil
berlinang air mata. Hatiku pedih, sakit sekali melihat ibuku dalam keadaan
seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata, “Jangan menangis anakku, aku
tidak kesakitan.” Dan itu kebohongan ibu yang kesekian kalinya.

Setelah mengucapkan kebohongannya-kebohongannya, ibuku tercinta menutup
mata untuk yang terakhir kalinya. Demikianlah, ibu yang telah melahirkan kita,
merawat kita sejak dilahirkan, akan selalu terpaksa untuk berbohong demi
membahagiakan kita. Dan sudahkan kita mengingat mereka, mengingat para ibu kita
yang kebetulan saat ini masih hidup dan butuh pertolongan kita. Sudah berapa
lamakah kita tak mengunjungi mereka, tak berbincang-bincang dengan mereka cuma
karena aktivitas kita yang padat.

Kita harus akui bahwa kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika
dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan pasangan kita.
Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita, risau apakah dia sudah
makan atau belum, risau apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah
kita semua pernah merisaukan kabar dari orangtua kita?

Risau, apakah orangtua kita sudah makan atau belum? Risau, apakah orangtua kita
sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan lagi.
Saat kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orangtua, lakukanlah
yang terbaik. Jangan sampai ada kata “menyesal” di kemudian hari.

POSTED BY: Priendah Weblog

Kamis, 24 Desember 2009

Semangkok Bakmi


Pada malam itu, Sue bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Sue segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun.

Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang. Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tidak mempunyai uang.
Pemilik kedai melihat Sue berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu ia berkata "Nona, apakah engkau ingin semangkuk bakmi?"
"Tetapi, aku tidak membawa uang", jawab Sue dengan malu-malu.
"Tidak apa-apa. Aku akan mentraktirmu", jawab sang pemilik kedai. "Silakan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu".

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi dengan sepiring sayuran. Sue segera makan beberapa suap dan kemudian air matanya mulai berlinang. "Ada apa Nak?" tanya si pemilik kedai."Ah, tidak apa-apa. Aku hanya terharu" jawab Sue sambil mengeringkan air matanya. "Bahkan, seorang yang baru aku kenal pun mau memberi aku semangkuk bakmi! Tetapi, Ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, langsung mengusir aku dari rumah. Ibu mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah. Sebaliknya, engkau, orang yang baru aku kenal ternyata begitu peduli dengan keadaanku. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri" ujar Sue yang ternyata tidak mampu membendung gejolak isi hatinya.

Pemiliki kedai itu, setelah mendengar perkataan Sue, tampak menarik nafas panjang dan kemudian berkata, "Nona, mengapa engkau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini. Aku hanya memberimu semangkuk bakmi, dan untuk itu engkau pun menjadi sangat terharu. Coba bayangkan, Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu semenjak engkau masih kecil hingga akhirnya beranjak dewasa. Mengapa engkau tidak berterima kasih kepadanya? Malah, engkau bertengkar dengan beliau".

Sue terhenyak mendengar perkataan tadi. "Mengapa aku tidak berpikir tentang hal tersebut ? Untuk semangkuk bakmi dari seseorang yang baru aku kenal, aku begitu berterima kasih. Tetapi kepada Ibuku yang telah memasak selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan, hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengan Ibu", renung Sue dalam hati.

Sue pun segera menghabiskan bakmi tersebut dengan cepat. Lalu, ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus dia ucapkan kepada Ibunya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengatakan "Ibu, aku minta maaf, aku tahu bahwa aku memang bersalah. Maafkan aku."

Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ternyata sang Ibu telah mencari Sue ke semua tempat. Ketika ia bertemu dengan Sue, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah "Sue, cepatlah masuk. Ibu telah menyiapkan makan malam. Segeralah kamu makan makanan itu, akan menjadi dingin jika kamu tidak memakannya sekarang", ujar sang Ibu sambil tersenyum.

Pada saat itu, Sue tidak dapat menahan air matanya dan ia pun menangis sejadi-jadinya di pangkuan sang Ibu. "Ibu, maafkan aku" kata Sue sambil terisak.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk sebuah pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi, kepada orang yang sangat dekat kepada kita, khususnya orangtua kita, kita harus ingat bahwa kita hendaknya berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.